Kita akan diuji melalui apa yang kita sayangi dan dengan apa yang selalu kita katakan.

Pahrol Muhammad Juoi

(via kurniawangunadi)

(Source: thethoughtcupboard)


lulukaulianisa:

This!

lulukaulianisa:

This!

(Source: sayingimages)


posted 1 week ago with 152 notes
reblog
originally sayingimages
Gathering Paguyuban KSE IPB #kse #ipb #danbo

Gathering Paguyuban KSE IPB #kse #ipb #danbo


posted 2 weeks ago with 1 note
reblog

achmadlutfi:

Sudjiwo Tejo - Hidup Tergantung Cara Berpikir


posted 2 weeks ago with 8 notes
reblog
originally achmadlutfi

Jangan Percuma

utinilamsari:

oleh: Ahmad Fuady

Saat pertama kali saya ke luar negeri karena mendapat fellowship studi riset, Ayah saya cemas luar biasa. Bukan karena saya tak punya uang, tapi lebih karena Ayah tak pernah melihat saya bicara dengan bahasa Inggris di rumah. Kecemasan itu lantas membuat kesehatannya turun drastis dan saya menemukan satu hal yang baru saya sadari: saya gagal belajar bahasa Inggris.

Nilai bahasa Inggris saya tak pernah kurang dari angka delapan, bahkan nilai ujian akhir SMA saya hampir menyentuh angka sembilan. Tapi, belajar bukan sekadar persoalan angka. Belajar adalah perkara amal –praktik. Peristiwa kecemasan Ayah itu cermin kegagalan pembelajaran saya. Percuma saja belajar dan ujian dengan angka tinggi, tapi tak pernah sedikitpun mempelihatkan jejas pembelajarannya dalam keseharian.

Ayah telah menggedor keresahan saya. Tiba-tiba saya seperti mendapat nasihat yang lebih banyak. Percuma nilaimu bagus, tapi amalmu miskin. Percuma kau mengaji dan paham keutamaan shalat sunnah dan jamaah, tapi langkah kakimu jarang ke masjid. Percuma suaramu bagus melantunkan Al Qur’an, tapi ia tak hadir dalam kesendirianmu. Percuma kau hafal seribu kisah tentang nabi, tapi tak juga bisa singkirkan kebohongan dalam hari-harimu. Percuma kau tahu fadhilah infaq, tapi kantongmu kau kunci dengan kekikiran. Percuma kau hafal ribuan hadits, tapi tontonanmu tak sedikitpun menyisakan ruang bagi Rasul menjadi teladanmu. Percuma kau berdebat tentang apakah bersentuhan dengan lawan jenis membatalkan wudhu-mu, tapi kau tak pernah risih saling bersentuhan ketika tanpa wudhu. Percuma kau menulis jejeran artikel dan kritik ilmiah, tapi kau sendiri tak mampu mengkritik dirimu. Percuma kau melagukan shalawat, rawi dan barzanji, tapi kau tak juga kau bersikap asyidda-u ‘alal kuffar dan ruhamaa-u baynahum. Percuma nilai matematikamu sempurna, tapi kau tak paham bagaimana menggunakan logika. Percuma kau dalami biologi dan kedokteran, tapi tak menambah rasa syukurmu kepada Tuhan. Percuma kau menyebut 10 malaikat di luar kepala, tapi tak pernah merasa hidupmu terawasi. Percuma kau mengangguk-angguk ketika disampaikan kepadamu bahwa pernikahan akan menjagamu dan melancarkan rizkimu, tapi kau lebih suka berlama-lama pacaran. Percuma kau mengerti bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang menghidupkan dan mematikan, yang meluaskan dan menyempitkan rizki, tapi doamu hanya rutinitas dan hafalan, bukan sungguhan. Tapi, shalatmu hanya kelaziman, bukan persembahan. Tapi, dzikirmu hanya berakhir di lisan, bukan penghayatan.

Peristiwa itu begitu membekas, seolah bernasihat dengan jelas: Ayah tak butuh nilai sekolah saya. Ayah hanya butuh saya mengamalkan apa yang saya pahami. Apalagi, Allah.

Rotterdam, Mei 2013


posted 2 weeks ago with 91 notes
reblog
originally utinilamsari
Bukankah keletihan akan berujung pada tidur yang nyenyak, dan rasa sakit akan tergantikan dengan kebugaran? Karena itu bersabar dan tunggulah barang sejenak.
— Dr ‘Aidh Al Qarni (via senjaya)

posted 2 weeks ago with 67 notes
reblog
originally senjaya

A Daddy’s Letter to His Little Girl (About Her Future Husband)

nayasa:

auliafarizqa:

Originally from here.

I wish I could hear you saying this, Daddy.

***

Dear Cutie-Pie,

Recently, your mother and I were searching for an answer on Google. Halfway through entering the question, Google returned a list of the most popular searches in the world. Perched at the top of the list was “How to keep him interested.”

It startled me. I scanned several of the countless articles about how to be sexy and sexual, when to bring him a beer versus a sandwich, and the ways to make him feel smart and superior.

And I got angry.

Little One, it is not, has never been, and never will be your job to “keep him interested.”

Little One, your only task is to know deeply in your soul — in that unshakeable place that isn’t rattled by rejection and loss and ego — that you are worthy of interest. (If you can remember that everyone else is worthy of interest also, the battle of your life will be mostly won. But that is a letter for another day.)

If you can trust your worth in this way, you will be attractive in the most important sense of the word: you will attract a boy who is both capable of interest and who wants to spend his one life investing all of his interest in you.

Little One, I want to tell you about the boy who doesn’t need to be kept interested, because he knows you are interesting:

I don’t care if he puts his elbows on the dinner table — as long as he puts his eyes on the way your nose scrunches when you smile. And then can’t stop looking.

I don’t care if he can’t play a bit of golf with me — as long as he can play with the children you give him and revel in all the glorious and frustrating ways they are just like you.

I don’t care if he doesn’t follow his wallet — as long as he follows his heart and it always leads him back to you.

I don’t care if he is strong — as long as he gives you the space to exercise the strength that is in yourheart.

I couldn’t care less how he votes — as long as he wakes up every morning and daily elects you to a place of honor in your home and a place of reverence in his heart.

I don’t care about the color of his skin — as long as he paints the canvas of your lives with brushstrokes of patience, and sacrifice, and vulnerability, and tenderness.

I don’t care if he was raised in this religion or that religion or no religion — as long as he was raised to value the sacred and to know every moment of life, and every moment of life with you, is deeplysacred.

In the end, Little One, if you stumble across a man like that and he and I have nothing else in common, we will have the most important thing in common:

You.

Because in the end, Little One, the only thing you should have to do to “keep him interested” is to be you.

Your eternally interested guy,

Daddy

flanagan notforreuse
———

This post is, of course, dedicated to my daughter, my Cutie-Pie. But I also want to dedicate it beyond her.

I wrote it for my wife, who has courageously held on to her sense of worth and has always held me accountable to being that kind of “boy.”

I wrote it for every grown woman I have met inside and outside of my therapy office — the women who have never known this voice of a Daddy.

And I wrote it for the generation of boys-becoming-men who need to be reminded of what is really important — my little girl finding a loving, lifelong companion is dependent upon at least one of you figuring this out. I’m praying for you.

———

This post originally appeared on DrKellyFlanagan.com

duh.


posted 2 weeks ago with 62 notes
reblog
originally auliafarizqa

Ayah

jadi ceritanya ini masih duduk manis di kantor, menunggu hujan reda, dari pada bengong, yasudah saya menulis. 

kali ini mau nulis tentang Ayah, laki-laki hebat nomor satu dalam kehidupan saya, bahkan sekarang beliau bukan hanya Ayah, tapi juga Ibu bagi saya.

alhamdulillah pada 12 - 14 April lalu saya bisa pulang ke rumah, ke kota Bertuah Pekanbaru, Riau. sebentar memang, tapi sangat bermakna. mendapatkan kesempatan untuk bisa berkumpul bersama keluarga walau cuma dua hari pasti akan menjadi momen yang sangat menyenangkan bagi anak rantau.

kepulangan saya kali itu menjadi kepulangan saya pertama semenjak Ibu meninggal pada 25 Agustus 2012 lalu. saya memang memutuskan untuk tetap bertahan di Jakarta dan bekerja untuk rentang waktu 2 - 3 tahun. kesepakatan tersebut juga kesepakatan antara saya dan Ayah. Ayah memberikan saya waktu 3 tahun untuk melanglang buana di Jakarta hingga akhirnya saya harus kembali ke kampung halaman dan berkarir disana. 

alasannya sangat sederhana mengapa saya harus balik ke Pekanbaru dan berkarir disana. kepergian Ibu membuat keluarga saya sedikit pincang. Allah nampaknya memang telah mempersiapkan kami sekeluarga untuk bisa hidup tanpa Ibu. sepuluh tahun bukan waktu yang singkat bagi kami untuk bisa bertahan melihat Ibu menahan rasa sakitnya. sepuluh tahun menjadi ajang belajar bagi kami sekeluarga untuk bisa hidup tidak merepotkan Ibu. dan saat Ibu dilepaskan dari rasa sakitnya, kami sedikit banyak sudah siap untuk mengatur rumah dengan sendiri.ya, saya harus kembali karena saya masih memiliki adik-adik yang masih butuh sosok seorang Ibu yang mungkin bisa mereka temukan dalam diri saya.

terkadang saya merasa egois dengan tetap bertahan disini dan membiarkan Ayah menjadi orang tua tunggal sendirian. namun saya punya alasan kuat dan Insyallah hal tersebut disetujui oleh Ayah. saya hanya ingin memberikan sebuh kehidupan yang lebih baik kepada Ayah dan adik-adik saya. saya ingin mereka bisa hidup tenang dan berkecukupan dengan rezeki yang saya dapatkan. semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan meridhoi apa yang saya lakukan saat ini untuk keluarga nun jauh disana. 

kembali ke Ayah.

Ayah, laki-laki hebat yang bahkan kami sekeluarga tidak tahu tanggal lahirnya, bahkan beliau pun tidak pernah tahu dia lahir pada tanggal dan bulan apa. di kartu identitasnya tertera tanggal yang beliau terka sendiri. 

Ayah, laki-laki luar biasa yang tidak segan membantu Ibu mencuci baju, tidak malu untuk membantu Ibu untuk meng-ulek cabe saat memasak, dan sangat ringan tangan dalam bersih-bersih rumah. bahkan saya yang dijuluki miss bersih-bersih di kosan masih kalah bersih dengan Ayah. 

Ayah, laki-laki keras yang masih bisa menangis jika mengingat Ibu. acap kali Ayah menghubungi saya dikala malam hanya untuk memberi tahu bahwa beliau sangat merindukan Ibu. sosok Ayah yang sangat tidak terlihat romantis dengan Ibu semasa hidupnya, bisa sangat begitu rapuh saat Ibu tidak ada. kerap beliau menangis saat membicarakan Ibu. seringpula saya melihat beliau menitikkan air mata saat memanjatkan do’a sehabis shalat.

Ayah, sosok laki-laki yang sangat setia. beliau menegaskan kepada saya bahwa beliau tidak akan macam-macam. banyak yang bilang kepada saya bahwa wajar jika Ayah berkeinginan menikah lagi. tapi beliau dengan beruraian air mata mengatakan tidak akan berpaling dari Ibu, beliau tidak akan menikah lagi. 

Ayah, dengan segala aktivitasnya selalu menyempatkan diri untuk menyediakan sarapan untuk adik-adik saya sebelum berangkat ke sekolah, menelepon saya hampir setiap pagi hanya untuk menanyakan saya sehat atau tidak. bahkan acap kali beliau menelepon untuk menyampaikan nasehat yang selama lima tahun ini saya hidup diperantauan selalu diulang-ulang hingga saya hafal.

Ayah, dengan segala kesederhanaannya tidak menuntut apa-apa dari saya. bahkan saat saya sudah bisa menyisihkan sedikit penghasilan saya tiap bulan untuk Ayah dan adik-adik, beliau menegaskan bahwa yang beliau mau hanya saya yang tidak pernah meninggalkan shalat, sellau mendo’akan Ibu dan hati-hati dalam melangkah. beliau berpesan untuk sungguh-sungguh dalam bekerja, dan gaji hanyalah hadih yang saya dapatkan karena kesungguhan saya dalam bekerja. 

Ayah, sosok yang sejak 25 Agustus lalu juga menjadi Ibu bagi saya dan adik-adik saya sangat bisa mejalankan dua peran tersebut. beliau memang tidak bisa menyampaikan sesuatu dengan lembut dan basa basi, namun beliau adalah sosok yang sangat memperhatikan anak-anaknya. berusaha dengan sangat keras untuk bisa memberikan kami kasih sayang bukan hanya sebagai seorang Ayah tapi juga sebagai seorang Ibu. 

Ayah… untuk kali ini saya tidak mau kalah lagi dengan waktu. saya sudah sangat kalah telak dengan umur Ibu, dan saya tidak mau kalah lagi untuk kedua kalinya. ridhoi-lah apa yang saya lakukan disini, karena ridho darimu adalah ridho dari Allah. 

Ayah, sampai saatnya nanti saya harus menikah dan hidup bersama dengan orang lain, sungguh saya tidak mau mendapatkan calon suami sepertimu, karena cukup engkau menjadi sosok Ayah bagi saya dan suami cukuplah menjadi sosok suami bukan menggantikan posisimu menjadi seorang Ayah bagi saya. 

Ayah, terimakasih untuk semua pengertian yang engkau berikan kepada saya. terimakasih untuk semua kesempatan yang engkau berikan sehingga saya bisa melihat dunia. tanpa restu darimu lima tahun yang lalu, saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di tanah jawa. 

Ayah, semoga kesempatan itu ada. semoga Allah memberikan saya jalan, kesempatan dan kekuatan dalam usaha saya membalas semua hal yang tentu tidak akan pernah bisa saya lunasi seumur hidup saya.

Ayah, mungkin hampir dua puluh tiga tahun saya hidup dunia saya belum pernah mengatakan kalimat ini secara langsung kepadamu 

“Ayah, ketahuilah bahwa anak kecilmu yang dulu sungguh sudah menjadi perempuan yang dewasa, sudah bisa berpijak diatas kakinya sendiri, bahwa anak gadismu ini sangat bangga memiliki laki-laki sepertimu dalam hidupnya. sungguh saya sangat menyayangimu Ayah”

Salam dari putri kecilmu

Mendawai, 1 Mei 2013 19.33 pm


posted 2 weeks ago with 1 note
reblog

Entah kapan terakhir kali menulis, sepertinya sudah sangat lama. Aktivitas saya di Tumblr lebih banyak dengan aktivitas reblog, sangat tidak produktif. Bukan karena pekerjaan yang sedang menumpuk atau segudang alasan lainnya, memang saya sedang malas menulis dan menurut saya itu berbahaya. 

Posisi dimana saya sudah jarang menulis menunjukkan terlalu banyak hal yang berputar di pikiran saya, terlalu banyak yang saya pikirkan sehingga saya menjadi bingung untuk menumpahkannya dalam sebuah tulisan. Ya, saya seperti (Almh) Ibu saya, terlalu pemikir, semua hal dimasukan kedalam kepala, hasil akhir dari sifat saya adalah ukuran tubuh yang semakin mengecil, semakin kurus. 

Ada beberapa hal yang tidak bisa saya bagi, even ke Ayah dan teman-teman terdekat. Sesuatu yang terlalu personal yang cukup saya keep sebagai bagian dari satu chapter dalam hidup saya. 

Saat ini, saya berada dalam proses terus menerus berbenah, berdamai dengan diri sendiri, mencoba mencari makna dan hikmah dari setiap kejadian. Memperbaiki dan mencoba meningkatkan kualitas diri. Memperbaiki “tampilan diri” di cermin. Mencoba memastikan diri bahwa Allah  yang pertama kali mendengar keluh dan kesah saya. 

Semoga Allah selalu memberikan kemudahan dalam menjalani setiap tantangan hidup yang Dia berikan kepada kita. Amiin. 

Mendawai 19, 16.59 pm


posted 2 weeks ago with 1 note
reblog
Hidup itu paket tak terpisahkan antara manis dan pahit perjalanan, hanya yang kekanak-kanakan yang ingin manis-manisnya saja.
— (via senjaya)

posted 2 weeks ago with 40 notes
reblog
originally senjaya
« 2 of 107 »
theme by heloísa teixeira