Ohh, I miss you Mom. Now when I’m coming home, I never find you anymore…
“Home”
Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home
Mmmmmmmm
May be surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna go home
Oh, I miss you, you know
And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
“I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that
Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky, I know
But I wanna go home
Mmmm, I’ve got to go home
Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home
And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right
And I know just why you could not
Come along with me
This was not your dream
But you always believed in me
Another winter day has come
And gone away
In either Paris or Rome
And I wanna go home
Let me go home
And I’m surrounded by
A million people I
Still feel alone
And let me go home
Oh, I miss you, you know
Let me go home
I’ve had my run
Baby, I’m done
I gotta go home
Let me go home
It’ll all be all right
I’ll be home tonight
I’m coming back home
Rantau 1 Muara - A. Fuadi
(via kurniawangunadi)
Serial Sepi Paling Tepi: Fragmen 10
jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan
- Joko Pinurbo
Namaku Joko. Aku biasa dipanggil orang-orang Joe. Like the others average Joe, aku makan dengan tangan kanan, tidur ketika malam turun, sarapan setiap pagi. Mungkin aku agak berbeda dengan mas Joko-mas Joko lainnya, mungkin, pada area pandangan politik saja. Selebihnya tidak.Waktu di kampus aku dikenal sebagai anak mushalla. Biasa orang-orang menamakan makhluk sepertiku ikhwan. Dan seperti kebanyakan ikhwan, aku tidak pacaran. Aku percaya seratus persen, pacaran bukanlah cara yang baik untuk menemukan isteri yang baik. Dan aku yakin, hubungan antara metodologi bernama pacaran dan kualitas seorang perempuan adalah signifikan terbalik.
Namaku Joko. Aku berkuliah di Universitas Indonesia. Hanya saja aku berkuliah di jurusan sastra. Fakta terakhir ini yang membuatku ditolak berkali-kali oleh para akhwat yang aku taarufi. Asal kalian tahu, dalam definisiku, akhwat adalah satu-satunya kemungkinan populasi perempuan yang bisa aku nikahi. Sementara taaruf adalah satu-satunya metode sampling paling tepat untuk menyasar populasi yang ingin aku sasar tadi. Dan kacaunya, akhwat UI bukanlah sampel yang tepat untuk penelitian hidupku. Akhwat UI dalam hal ini adalah skewed negatif. Anak sastra dalam pandangan mereka, adalah sekumpulan orang yang rajin meramu kata-kata, tetapi selalu gagal menjamu harta benda.
Hingga akhirnya aku menyerah. Aku harus menyeberang universitas yang lebih tinggi probabilitas penerimaannya terhadapku. Alhamdulillah, akhirnya proposal yang didalamnya terlampir riwayat hidupku yang terang benderang, penuh dengan catatan prestasi dakwah dan berbagai aktivitas kepemimpinan, diterima juga.
Perempuan itu bernama…
—-
Namaku Lia. Aktivitas sehari-hariku adalah mengajar di PAUD yang aku dirikan dengan beberapa teman waktu kuliah dulu. Sebagaimana lazimnya perempuan yang telah selesai kuliah, aku dihantui oleh pertanyaan “kapan akan menikah” oleh semua orang yang merasa berhak melontarkan pertanyaan itu. Mulai dari orang tua, teman dekat, bahkan orang tua siswa-siswaku.
Namaku Lia. Aku perempuan. Dan karena itu aku percaya jodoh berarti adalah penolakan atau penerimaan olehku. Bukan apakah tentang menyatakan atau diendapkan. Karena itu aku menunggu. Hingga suatu ketika aku dipanggil oleh guru mengajiku. Beliau menanyakan apakah aku sudah siap menikah atau belum. Waktu itu hanya senyum yang bisa kuberikan. Aku tidak tahu bagaimana prosesnya di sistem limbikku, sehingga kaget dan malu bisa berubah menjadi senyum di wajahku.
Tidak banyak menunggu, guru mengajiku itu, memberikan saja kepadaku sebuah proposal. Katanya waktu itu “ini ada ikhwan UI yang siap menikah.”
Aku pelajari proposal itu. Harap dicatat, aku tak pernah tahu laki-laki ini. Aku tak berteman dengannya di FB, aku tidak pernah mem-follow twitternya, aku tak pernah membaca blognya. Ringkasnya, I have no idea about this guy, at all.
Beberapa hari kemudian aku menelpon guru mengajiku itu, aku nyatakan aku bersedia melakukan taaruf dengan laki-laki itu.
—-
Namaku Joko. Biasa dipanggil Joe. Seperti umumnya taaruf yang biasa aku dengar dari senior-seniorku, semua berjalan lancar. Dimulai dengan bertemu dengan perempuan itu di rumah guru mengajinya. Bercakap-cakap dengan skema pikir seperti seorang officer bagian HR perusahaan bonafide sedang mewawancarai pelamar kerja. Nyaris tidak ada riak-riak canda. Suasananya mirip seperti waktu melaksanakan tahajud, khusyuk.
Setelah beberapa kali melakukan sesi wawancara ala analisa jabatan, guru mengaji perempuan itu menanyakan apakah sudah siap untuk memasuki fase selanjutnya. Kami sepakat untuk membuat koor “siappp…”
Pertemuan dengan orang tua pun dilakukan. Lamaran pun diadakan. Dan seperti umumnya taaruf yang biasa aku dengar dari senior-seniorku, semuanya berjalan lancar.
Hingga…
—-
Namaku Lia. Kisahku adalah kisah rata-rata. Hingga setelah lamaran telah berjalan sedemikian rupa. Setelah semua telah ditetapkan bahkan berapa butir koin yang akan dijadikan uang hantaran, tiba-tiba hatiku gundah. Aku belum selesai.
Pernah suatu masa, ketika aku masih beraktivitas di kampus, aku kagum setengah mati dengan seorang laki-laki. Rasa itu aku rawat dengan hati-hati. Aku seduhkan teh setiap pagi. Aku mandikan menjelang malam hari. Aku tidurkan dengan belaian lembut jari.
Namaku Lia. Aku perempuan. Dan karena itu aku percaya jodoh berarti adalah penolakan atau penerimaan olehku. Bukan apakah tentang menyatakan atau diendapkan. Karena itulah aku hanya menunggu. Tak pernah aku lakukan konfirmasi apakah perasaanku itu mendapatkan tempatnya juga pada laki-laki itu.
Hingga pada suatu pagi, setelah semalaman aku tak tidur, aku menelpon laki-laki yang kepergiannya meninggalkan rindu, kedatangannya mendatangkan ragu itu. Aku ceritakan apa yang kurasakan. Aku sampaikan apa yang telah kulakukan. Aku haturkan apa yang aku impikan. Gilanya ia ternyata merasakan hal yang sama. “Maaf, seharusnya perasaanku ini aku sampaikan sedari dahulu,” begitu katanya.
—-
Namaku Joko. Biasa dipanggil Joe. Seperti umumnya taaruf yang biasa aku dengar dari senior-seniorku, semua berjalan lancar. Hingga aku mendapatkan suatu email di pagi hari. Email itu tanpa subjek. Tetapi email itu punya objek.
Hati yang patah.
—-
Gila. Hal ini aku sampaikan ke guru mengajiku. Aku katakan padanya “mbak, aku tak ingin melanjutkan proses yang kemarin aku lakukan, aku pikir aku tidak akan bisa berbahagia dengan orang itu.” Walaupun dengan wajah yang kalut, guru mengajiku hanya bisa menyanggupi. Hidupku adalah otoritasku. Aku tambahkan padanya, aku akan segera saja melaksanakan pernikahan dengan pria yang telah aku sukai ini.
Pria itu bernama Haryo.
Yogya terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.
Joko Pinurbo
Jogjaaaaaaaa..!!
Adaptasi syair Imam Syafii (767-820 M) dalam Rantau 1 Muara - A.Fuadi
(via kurniawangunadi)
Jalan apa yang aku tempuh? Jalur mana yang aku ambil? Sampai kemana tujuan yang aku ingin capai? Entahlah, semua terasa kabur.
Rantau 1 Muara - A.Fuadi
(via kurniawangunadi)
Rantau 1 Muara - A. Fuadi
(via kurniawangunadi)
Rantau 1 Muara - A. Fuadi
(via kurniawangunadi)
