Ohh, I miss you Mom. Now when I’m coming home, I never find you anymore…

“Home”

Another summer day

Has come and gone away

In Paris and Rome

But I wanna go home

Mmmmmmmm

May be surrounded by

A million people I

Still feel all alone

I just wanna go home

Oh, I miss you, you know

And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you

Each one a line or two

“I’m fine baby, how are you?”

Well I would send them but I know that it’s just not enough

My words were cold and flat

And you deserve more than that

Another aeroplane

Another sunny place

I’m lucky, I know

But I wanna go home

Mmmm, I’ve got to go home

Let me go home

I’m just too far from where you are

I wanna come home

And I feel just like I’m living someone else’s life

It’s like I just stepped outside

When everything was going right

And I know just why you could not

Come along with me

This was not your dream

But you always believed in me

Another winter day has come

And gone away

In either Paris or Rome

And I wanna go home

Let me go home

And I’m surrounded by

A million people I

Still feel alone

And let me go home

Oh, I miss you, you know

Let me go home

I’ve had my run

Baby, I’m done

I gotta go home

Let me go home

It’ll all be all right

I’ll be home tonight

I’m coming back home


posted 10 hours ago with 1 note
reblog
Muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khilafah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian dan kebermanfaatan.

Rantau 1 Muara - A. Fuadi

(via kurniawangunadi)


posted 2 days ago with 48 notes
reblog
originally kurniawangunadi

Serial Sepi Paling Tepi: Fragmen 10

muhammadakhyar:

jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan

- Joko Pinurbo


Namaku Joko. Aku biasa dipanggil orang-orang Joe. Like the others average Joe, aku makan dengan tangan kanan, tidur ketika malam turun, sarapan setiap pagi. Mungkin aku agak berbeda dengan mas Joko-mas Joko lainnya, mungkin, pada area pandangan politik saja. Selebihnya tidak.

Waktu di kampus aku dikenal sebagai anak mushalla. Biasa orang-orang menamakan makhluk sepertiku ikhwan. Dan seperti kebanyakan ikhwan, aku tidak pacaran. Aku percaya seratus persen, pacaran bukanlah cara yang baik untuk menemukan isteri yang baik. Dan aku yakin, hubungan antara metodologi bernama pacaran dan kualitas seorang perempuan adalah signifikan terbalik.

Namaku Joko. Aku berkuliah di Universitas Indonesia. Hanya saja aku berkuliah di jurusan sastra. Fakta terakhir ini yang membuatku ditolak berkali-kali oleh para akhwat yang aku taarufi. Asal kalian tahu, dalam definisiku, akhwat adalah satu-satunya kemungkinan populasi perempuan yang bisa aku nikahi. Sementara taaruf adalah satu-satunya metode sampling paling tepat untuk menyasar populasi yang ingin aku sasar tadi. Dan kacaunya, akhwat UI bukanlah sampel yang tepat untuk penelitian hidupku. Akhwat UI dalam hal ini adalah skewed negatif. Anak sastra dalam pandangan mereka, adalah sekumpulan orang yang rajin meramu kata-kata, tetapi selalu gagal menjamu harta benda.

Hingga akhirnya aku menyerah. Aku harus menyeberang universitas yang lebih tinggi probabilitas penerimaannya terhadapku. Alhamdulillah, akhirnya proposal yang didalamnya terlampir riwayat hidupku yang terang benderang, penuh dengan catatan prestasi dakwah dan berbagai aktivitas kepemimpinan, diterima juga. 

Perempuan itu bernama…

—-

Namaku Lia. Aktivitas sehari-hariku adalah mengajar di PAUD yang aku dirikan dengan beberapa teman waktu kuliah dulu. Sebagaimana lazimnya perempuan yang telah selesai kuliah, aku dihantui oleh pertanyaan “kapan akan menikah” oleh semua orang yang merasa berhak melontarkan pertanyaan itu. Mulai dari orang tua, teman dekat, bahkan orang tua siswa-siswaku.

Namaku Lia. Aku perempuan. Dan karena itu aku percaya jodoh berarti adalah penolakan atau penerimaan olehku. Bukan apakah tentang menyatakan atau diendapkan. Karena itu aku menunggu. Hingga suatu ketika aku dipanggil oleh guru mengajiku. Beliau menanyakan apakah aku sudah siap menikah atau belum. Waktu itu hanya senyum yang bisa kuberikan. Aku tidak tahu bagaimana prosesnya di sistem limbikku, sehingga kaget dan malu bisa berubah menjadi senyum di wajahku.

Tidak banyak menunggu, guru mengajiku itu, memberikan saja kepadaku sebuah proposal. Katanya waktu itu “ini ada ikhwan UI yang siap menikah.”

Aku pelajari proposal itu. Harap dicatat, aku tak pernah tahu laki-laki ini. Aku tak berteman dengannya di FB, aku tidak pernah mem-follow twitternya, aku tak pernah membaca blognya. Ringkasnya, I have no idea about this guy, at all 

Beberapa hari kemudian aku menelpon guru mengajiku itu, aku nyatakan aku bersedia melakukan taaruf dengan laki-laki itu. 

—-

Namaku Joko. Biasa dipanggil Joe. Seperti umumnya taaruf yang biasa aku dengar dari senior-seniorku, semua berjalan lancar. Dimulai dengan bertemu dengan perempuan itu di rumah guru mengajinya. Bercakap-cakap dengan skema pikir seperti seorang officer bagian HR perusahaan bonafide sedang mewawancarai pelamar kerja. Nyaris tidak ada riak-riak canda. Suasananya mirip seperti waktu melaksanakan tahajud, khusyuk.

Setelah beberapa kali melakukan sesi wawancara ala analisa jabatan, guru mengaji perempuan itu menanyakan apakah sudah siap untuk memasuki fase selanjutnya. Kami sepakat untuk membuat koor “siappp…”

Pertemuan dengan orang tua pun dilakukan. Lamaran pun diadakan. Dan seperti umumnya taaruf yang biasa aku dengar dari senior-seniorku, semuanya berjalan lancar.

Hingga…

—-

Namaku Lia. Kisahku adalah kisah rata-rata. Hingga setelah lamaran telah berjalan sedemikian rupa. Setelah semua telah ditetapkan bahkan berapa butir koin yang akan dijadikan uang hantaran, tiba-tiba hatiku gundah. Aku belum selesai.

Pernah suatu masa, ketika aku masih beraktivitas di kampus, aku kagum setengah mati dengan seorang laki-laki. Rasa itu aku rawat dengan hati-hati. Aku seduhkan teh setiap pagi. Aku mandikan menjelang malam hari. Aku tidurkan dengan belaian lembut jari. 

Namaku Lia. Aku perempuan. Dan karena itu aku percaya jodoh berarti adalah penolakan atau penerimaan olehku. Bukan apakah tentang menyatakan atau diendapkan. Karena itulah aku hanya menunggu. Tak pernah aku lakukan konfirmasi apakah perasaanku itu mendapatkan tempatnya juga pada laki-laki itu. 

Hingga pada suatu pagi, setelah semalaman aku tak tidur, aku menelpon laki-laki yang kepergiannya meninggalkan rindu, kedatangannya mendatangkan ragu itu. Aku ceritakan apa yang kurasakan. Aku sampaikan apa yang telah kulakukan. Aku haturkan apa yang aku impikan. Gilanya ia ternyata merasakan hal yang sama. “Maaf, seharusnya perasaanku ini aku sampaikan sedari dahulu,” begitu katanya. 

—-

Namaku Joko. Biasa dipanggil Joe. Seperti umumnya taaruf yang biasa aku dengar dari senior-seniorku, semua berjalan lancar. Hingga aku mendapatkan suatu email di pagi hari. Email itu tanpa subjek. Tetapi email itu punya objek. 

Hati yang patah.

—-

Gila. Hal ini aku sampaikan ke guru mengajiku. Aku katakan padanya “mbak, aku tak ingin melanjutkan proses yang kemarin aku lakukan, aku pikir aku tidak akan bisa berbahagia dengan orang itu.” Walaupun dengan wajah yang kalut, guru mengajiku hanya bisa menyanggupi. Hidupku adalah otoritasku. Aku tambahkan padanya, aku akan segera saja melaksanakan pernikahan dengan pria yang telah aku sukai ini. 

Pria itu bernama Haryo.

 


posted 3 days ago with 35 notes
reblog
originally muhammadakhyar
lutfiannisa:

Enough, You have given me more than enough =’)

lutfiannisa:

Enough, You have given me more than enough =’)

(Source: fatenmuhamad)


posted 3 days ago with 159 notes
reblog
originally fatenmuhamad
radijkstra:

defikaaufa:
Yogya terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.
Joko Pinurbo
Jogjaaaaaaaa..!!

radijkstra:

defikaaufa:

Yogya terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.

Joko Pinurbo

Jogjaaaaaaaa..!!


posted 3 days ago with 5 notes
reblog
originally defikaaufa
Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu; melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu

Adaptasi syair Imam Syafii (767-820 M) dalam Rantau 1 Muara - A.Fuadi

(via kurniawangunadi)


posted 3 days ago with 204 notes
reblog
originally kurniawangunadi
Man saara ala darbi washala : Siapa yang berjalan di jalannya, akan sampai tujuan

Jalan apa yang aku tempuh? Jalur mana yang aku ambil? Sampai kemana tujuan yang aku ingin capai? Entahlah, semua terasa kabur.

Rantau 1 Muara - A.Fuadi

(via kurniawangunadi)


posted 3 days ago with 80 notes
reblog
originally kurniawangunadi
Jangan bermain-main dengan hati perempuan. Hatinya dalam dan sensitif, bisa menghanyutkan dan menenggelamkan. Tapi juga tangguh, bisa menguatkan, menumbuhkan, dan menjelmakan mimpi-mimpi kita. Hati perempuan bisa memaafkan, tapi tidak bisa melupakan apa yang pernah singgah di pedalaman hatinya. Kalau tidak serius, jangan main-main.

Rantau 1 Muara - A. Fuadi

(via kurniawangunadi)


posted 3 days ago with 352 notes
reblog
originally kurniawangunadi
When you have nothing, you have Allah. When you have Allah, you have everything :’)
— (via elvinadiah)

posted 3 days ago with 16 notes
reblog
originally elvinadiah
Jangan menunda-nunda sesuatu yang penting, karena kalau hilang, bisa hilang selamanya. Yang ada hanya penyesalan yang akan hadir selamanya.

Rantau 1 Muara - A. Fuadi

(via kurniawangunadi)


posted 3 days ago with 78 notes
reblog
originally kurniawangunadi
1 of 108 »
theme by heloísa teixeira